Di awal abad 20, pertama kali ahli geologis menjelaskan bahwa ternyata beberapa batuan vulkanik yang berasal dari zaman pleistosen (antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu) memiliki pola medan magnet berlawanan arah dengan medan magnet Bumi sekarang ini, sehingga membuat kompas tidak menunjukkan arah dengan benar, yang utara menjadi selatan, yang selatan jadi utara. Perkiraan waktu terjadinya pembalikan arah medan magnet bumi (Geomagnetic reversal) dipublikasikan pertama kali di tahun 1920-an oleh Motonori Matuyama, seorang ahli geologis dari Jepang. Matuyama meneliti bahwa pola medan magnet yang terkandung pada beberapa batuan vulkanik di Jepang memiliki perbedaan dengan pola medan magnet Bumi. Semua batuan yang diteliti Matuyama tersebut berasal dari awal zaman Pleistosin atau bahkan sebelumnya. Pada tahun 1920-an itu, pengetahuan tentang kemagnetan Bumi masih sangat sedikit dipahami, sehingga hasil penelitian Matuyama tentang kemungkinan terjadinya pembalikan kutub Bumi kurang mendapatkan perhatian dari kalangan ilmuwan.
30 tahun kemudian, ketika sifat kemagnetan Bumi sudah lebih dipahami dan teori-teori pun mulai berkembang, para ilmuwan akhirnya menyatakan bahwa ada kemungkinan terjadinya pembalikan medan magnet atau kutub Bumi, seperti yang terjadi di zaman batu. Sebagian besar penelitian tentang paleomagnetic di akhir tahun 1950-an mengikutsetakan pemeriksaan tentang penyimpangan kutub magnet bumi dan pergerakan lempeng benua. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa sebagian besar batuan vulkanik yang bersifat magnet menyimpan petunjuk-petunjuk mengenai keadaan medan magnet Bumi di waktu bebatuan tersebut mengalami proses pendinginan.
Selama tahun 1950 sampai tahun 1960, banyak informasi tentang macam-macam medan magnet Bumi berhasil dikumpulkan melalui penelitian terkait. Di tahun 1963, Frederick Vine dan Drummond Matthews menjelaskan bahwa jejak-jejak magnetik yang ada di dasar laut merupakan penyebaran jejak magnetik dari daerah pusat ke sekitarnya sehingga jejak-jejak magnetik saling berhubungan di daerah itu.
Pada awal tahun 1966, para ilmuwan yang bekerja di observatorium Lamont–Doherty Geological menemukan bahwa riwayat penyimpangan magnetik yang terjadi di sepanjang daerah samudera Pasifik hingga Antarktik memiliki kesamaan dan keterhubungan dengan penyimpangan pola magnetik yang ada di daerah Atlantik Utara. Penyimpangan yang sama juga ditemukan di sebagian besar samudera di dunia. Sejak 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik Selatan. "Pertumbuhan berada pada tingkat yang membahayakan," kata Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno yang pernah dimuat pada website Tempo (14/02/2012).
Dari data-data yang diperoleh,
30 tahun kemudian, ketika sifat kemagnetan Bumi sudah lebih dipahami dan teori-teori pun mulai berkembang, para ilmuwan akhirnya menyatakan bahwa ada kemungkinan terjadinya pembalikan medan magnet atau kutub Bumi, seperti yang terjadi di zaman batu. Sebagian besar penelitian tentang paleomagnetic di akhir tahun 1950-an mengikutsetakan pemeriksaan tentang penyimpangan kutub magnet bumi dan pergerakan lempeng benua. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa sebagian besar batuan vulkanik yang bersifat magnet menyimpan petunjuk-petunjuk mengenai keadaan medan magnet Bumi di waktu bebatuan tersebut mengalami proses pendinginan.
Selama tahun 1950 sampai tahun 1960, banyak informasi tentang macam-macam medan magnet Bumi berhasil dikumpulkan melalui penelitian terkait. Di tahun 1963, Frederick Vine dan Drummond Matthews menjelaskan bahwa jejak-jejak magnetik yang ada di dasar laut merupakan penyebaran jejak magnetik dari daerah pusat ke sekitarnya sehingga jejak-jejak magnetik saling berhubungan di daerah itu.
Pada awal tahun 1966, para ilmuwan yang bekerja di observatorium Lamont–Doherty Geological menemukan bahwa riwayat penyimpangan magnetik yang terjadi di sepanjang daerah samudera Pasifik hingga Antarktik memiliki kesamaan dan keterhubungan dengan penyimpangan pola magnetik yang ada di daerah Atlantik Utara. Penyimpangan yang sama juga ditemukan di sebagian besar samudera di dunia. Sejak 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik Selatan. "Pertumbuhan berada pada tingkat yang membahayakan," kata Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno yang pernah dimuat pada website Tempo (14/02/2012).
Dari data-data yang diperoleh,



