Senin, Februari 18, 2013

Suka Makan Tapi Badan Kurus


Suka makan tapi badan kurus, apa penyebabnya? Ada 4 penyebab badan tetap kurus walau suka makan alias ngemil, antara lain:
  • Memiliki pola makan, olahraga, dan tidur yang salah.
  • Tinggi badan melebihi ukuran ideal usia.
  • Energi yang keluar untuk aktivitas lebih banyak dibandingkan asupan nutrisi.
  • Menderita tuberkolosis (TB), gangguan pencernaan dan penyerapan makanan, atau gangguan tiroid (hipertiroid).
  • Tubuh memiliki sistem metabolisme yang sangat tinggi, sehingga mencerna makanan lebih cepat dan membakar kalori lebih besar dari metabolisme rata-rata, sehingga tidak menghasilkan timbunan lemak di dalam tubuh. Biasanya bisa disebabkan karena faktor keturunan.


Benarkah Anda Kurus?
Pelan-pelan mengambil kesimpulan bahwa Anda gemuk atau kurus. Untuk mengetahui dengan benar apakah Anda kurus atau gemuk adalah dengan menghitung Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Cara penghitungan ini memang ada keterbatasan, tapi cara ini merupakan cara yang paling banyak diterima di seluruh dunia dalam menentukan kurus atau gemuk seseorang.
Cara menghitungnya sebagai berikut:

B = bobot badan Anda dalam kilogram (kg).
T = tinggi badan Anda dalam meter (m).

BMI Anda = B : (T x T)

Jika BMI di atas 22,9 = gendut alias gemuk.
Jika BMI di antara 18,5 – 22,9 = ideal.
Jika BMI di bawah 18,5 = kurus.

Contoh cara penghitungan:
Bobot badan saya 72 kg dan tinggi badan 171 cm (1,71 m) , berarti BMI saya = 72 : (1,71 x 1,71) = 24,6 kg/m2.
Wah,... agak gendut dong... hehehe... berarti masih perlu diet sampai bobot badan 67 kg, harus tercapai dalam 3 bulan...semangaat!!!

Ehm...ehm... Nah kalau bobot badan Anda bagaimana?

Kalau BMI Anda memang di bawah 18,5 kg/m2 alias kurus, ada beberapa tips bagi Anda yang kesulitan menaikkan bobot badan, antara lain:


Jumat, Februari 15, 2013

Kamuflase dan Mimikri di Dunia Binatang

Kamuflase dan mimikri, sebagian besar siswa masih bingung dengan arti dua kata ini. Di dunia binatang, perilaku hewan melakukan kamuflase dan mimikri bertujuan untuk mempertahankan diri dan juga untuk mempermudah dia mencari makanan. Tetapi kamuflase dan mimikri memiliki arti yang sungguh berbeda, tetapi sebagian besar orang sering membuat arti dua kata ini menjadi rancu, bahkan beberapa website menyamakan arti dua kata ini. Tentu saja ini membuat bingung siswa, tak terkecuali saya. Tapi alhamdulillaah, setelah saya membaca berbagai referen, akhirnya perbedaan kamuflase dan mimikri di dunia binatang menjadi jelas.

Kamuflase adalah suatu cara yang memungkinkan binatang yang biasanya mudah terlihat menjadi tersamar atau sulit dibedakan dari lingkungan sekitarnya. Selain digunakan untuk menghindari predator, kamuflase juga digunakan untuk memudahkan hewan mencari mangsa atau makanan. Jadi hewan yang ber-kamuflase selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya atau lingkungan sekitar dia, atau mencari lingkungan yang bisa menyamarkan tubuhnya.

Sedangkan mimikri berasal dari kata Yunani, yakni mimetikos, atau dalam bahasa Inggris disebut "imitative", dalam bahasa Indoneisa berarti “bersifat meniru”. Sehingga mimikri (meniru) merupakan pemiripan atau peniruan secara fisik atau perilaku oleh satu spesies terhadap spesies yang lain yang menguntungkan dirinya. Organisme (makhluk hidup) yang “meniru” disebut mimik, sedangkan organisme yang “ditiru” disebut model. Jadi pada hewan yang ber-mimikri selalu meniru fisik atau perilaku spesies lain, selalu memiliki model, sehingga meski dia berada di sembarang lingkungan tetap dapat mengecoh hewan di sekitarnya. Tujuan hewan melakukan mimikri untuk tujuan pertahanan maupun untuk mendapatkan makanan.

Foto-foto berikut dapat menjelaskan perbedaan kamuflase dan mimikri dengan lebih jelas.

Contoh Kamuflase:
Coba tebak hewan apa yang ada di dalam gambar!  Butuh kejelian dalam menemukan hewan-hewan tersebut di dalam foto. >o< ...  kalau ingin memperbesar gambar, klik saja pada gambar.
(foto-foto berikut nyata, bukan direkayasa, Anda bisa membuktikan sendiri)

Selasa, Februari 12, 2013

Harus Belajar Sejarah Kota Maya!

Mengapa harus Belajar Sejarah Kota Maya? Karena jika tidak Indonesia akan mengalami musibah sebagaimana musibah yang menimpa bangsa Maya. Berikut penjelasan selengkapnya.

Selama 1200 tahun, Maya mendominasi Amerika Tengah. Pada puncak kejayaannya sekitar tahun 900 Masehi, daerah perkotaan Maya dipadati lebih dari 2.000 orang per mil persegi (sebanding dengan kota Los Angeles sekarang). Bahkan di daerah pedesaan, jumlah penduduk Maya berkisar 200 hingga 400 orang per mil persegi. Tapi tiba-tiba, semuanya menjadi sepi. Dan keheningan tersebut menjadi saksi atas salah satu bencana terbesar dalam demografi prasejarah manusia, yakni runtuhnya peradaban Maya.

Apa yang terjadi? Beberapa peneliti yang didanai NASA menemukan penyebabnya.

"Kehancuran suku Maya karena ulah suku Maya sendiri." kata arkeolog veteran Sever Tom.

"Suku Maya sering digambarkan sebagai masyarakat yang tinggal dalam keharmonisan dengan lingkungannya," Kata mahasiswa PhD Robert Griffin. "Tapi seperti banyak budaya lain sebelum dan sesudah mereka, mereka akhirnya melakukan penebangan hutan dan merusak wilayah mereka untuk tetap berusaha hidup di masa-masa sulit."

Kekeringan besar terjadi di saat penduduk Maya mulai menghilang. Dan pada saat kehancurannya, penduduk Maya melakukan penebangan pohon secara besar-besaran untuk membuat lahan pertanian yang luas. Lahan tersebut digunakan sebagai ladang jagung untuk memberi makan populasi penduduk mereka yang berkembang. Tak hanya itu, mereka juga menebang pohon untuk kayu bakar guna membuat bahan bangunan.

"Mereka harus menebang sekitar 20 pohon untuk memanaskan batu kapur hanya untuk membuat 1 meter persegi plester kapur yang digunakan untuk membangun kuil megah, waduk, dan monumen," Kata Sever menjelaskan.

Ia dan timnya menggunakan simulasi komputer untuk merekonstruksi bagaimana penggundulan hutan (deforestasi) berperan dalam memperburuk kekeringan. Mereka juga melakukan simulasi efek deforestasi dengan menggunakan model iklim komputer yang terbukti akurat, yakni PSU/NCAR mesoscale atmospheric circulation model, atau yang dikenal sebagai MM5, dan Community Climate System Model, disingkat CCSM.

"Kami membuat model untuk skenario yang terburuk dan yang terbaik. Model terburuk yakni saat 100 persen deforestasi di wilayah Maya terjadi. Dan model terbaik yakni saat deforestasi tidak terjadi." kata Sever. "Hasilnya benar-benar mengejutkan.