Selasa, Maret 17, 2015

Konsep Salah Diajarkan Terus, Tentang Simbiosis

Ada satu lagi konsep yang salah tentang simbiosis yang diajarkan terus dan tercantum di dalam buku-buku seperti berikut ini:
  1. buku SM*RT in Science, buku bilingual, tahun terbit 2011, untuk pelajaran IPA SD kelas 4, Har**, halaman 107.
  2. buku BSE, tahun terbit 2008, IPA SD dan MI kelas IV, De**, halaman 70.
  3. buku BSE, tahun terbit 2008, IPA untuk SD dan MI Kelas IV, Sulist*****, halaman 61.
  4. buku BSE, tahun 2008, Senang Belajar IPA 4, untuk Kelas IV, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, Rosit*****, halaman 65.

Semua buku tersebut menjelaskan konsep yang kurang tepat tentang simbiosis. Berikut ini kutipan tulisan dalam buku tersebut, terurut sesuai urutan daftar buku di atas.
1)    Hubungan antara dua makhluk hidup disebut simbiosis.
2)    Hubungan timbal balik antara dua makhluk hidup disebut simbiosis.
3)    Hubungan khas antar makhluk hidup seperti ini disebut simbiosis.
4)    Hubungan antara dua makhluk hidup disebut simbiosis.

Sebelum saya sampaikan menurut referensi lainnya, coba kita pikirkan, kira-kira tepat tidak kalimat pengertian di atas. Kalaulah memang hubungan antara dua makhluk hidup disebut simbiosis, lantas bagaimana jika hubungan tersebut terjadi antara bapak (manusia) dengan ibu (manusia), atau antar sesama semut merah? Apakah ini termasuk simbiosis? Tentulah tidak, karena hubungan seperti itu disebut “kerjasama”.

Oleh karena itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun dibedakan pengertian antara kerjasama dengan simbiosis.

“kerjasama” tidak sama arti dengan “simbiosis”

Menurut KBBI,
Kerjasama adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (lembaga, pemerintah, dsb) untuk mencapai tujuan bersama. 
Sedangkan,
Simbiosis adalah (Bio) keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yang berbeda.

Senada dengan KBBI, menurut wikipedia,
Simbiosis merupakan pola interaksi yang sangat erat dan khusus antara dua makhluk hidup yang berlainan jenis (Hermawati, 2010). 

Yang dimaksud dengan “berlainan jenis” sama artinya dengan “berlainan spesies”.

Dalam buku yang lain yang pernah saya baca, juga memberikan pengertian yang senada, sebagaimana yang tertulis pada buku yang berjudul Sukses Ujian Nasional SD/MI 2014, penerbit Wahyumedia, yang menjelaskan bahwa simbiosis adalah hubungan atau pola interaksi antar dua makhluk hidup yang berlainan jenis (Untoro et al., 2013: 103). Atau pada buku yang berjudul Jurus Lulus UN SD/MI 2012, penerbit IndonesiaTera, yang menjelaskan bahwa simbiosis adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang berbeda jenis (Sa'adah et al., 2011: 178).

Kesimpulan Pengertian dan Macam Simbiosis

Sabtu, Maret 14, 2015

Perbedaan Berfikir Ilmiah dengan Sederhana

Sebelum kita membahas apa perbedaan antara berfikir ilmiah dengan sederhana, pengertian-pengertiannya, dan bagaimana penerapannya. Akan lebih mudah kita pahami jika kita ikuti kisah berikut ini terlebih dulu.

Tersebutlah sebuah kisah.
(Mohon dibaca dengan baik)

---
Suatu hari seorang profesor mengajak anaknya, yang masih kelas 1 SD, menuju ke kantornya, mumpung sekolah full day-nya sedang libur. Padahal sebenarnya sejak pagi, si anak ingin diajak ke taman bermain. Tetapi karena profesor tersebut sedang banyak tugas yang belum selesai di kantor, sedangkan dia juga single parent, tanpa pembantu. Tidak ada sanak famili yang lain yang bisa menemani si anak. Akhirnya dengan terpaksa, si anak membatalkan keinginannya ke taman bermain.

Setiba mereka di kantor, mereka disapa seorang wanita cantik yang biasanya sehari-hari bertemu dengan profesor di kantor. Terjadilah percakapan singkat antara si wanita, profesor, dan si anak.
Si wanita: “Selamat pagi, Prof!”
Profesor: “Ya, selamat pagi.” (sambil tersenyum)
Si wanita: “Anaknya ya prof, adududu manis sekali, mirip ayahnya.”
Profesor: “Iya, ini anak saya.” (sambil tersenyum)
Si wanita: “Adeek pastinya bangga ya punya ayah yang bergelar profesor.”
Si anak: “Tidak, aku tidak mau mengakui dia sebagai ayah saya.” (jawab dia dengan kesal)
Si wanita: “Lho nggak baik lho ngomong begitu, ayahmu khan baik sama kamu.”
Si anak: “...” (hanya diam, tidak mau menjawab)

Si wanita bingung dan memandang profesor. Profesor hanya bisa tersenyum.
---

Jawablah pertanyaan ini terlebih dulu
  1. Bagaimana pendapat Anda tentang kisah tersebut?
  2. Menurut Anda, apa karakter dari masing-masing tokoh tersebut? (si wanita cantik, si profesor, dan si anak)
  3. Siapakah yang sebenarnya bersalah dalam kisah tersebut?
  4. Solusi apa yang seharusnya dilakukan oleh profesor dan si wanita?

Ikutilah lanjutan cerita di bawah ini dan saya yakin Anda akan merubah kesimpulan Anda.

Rabu, Maret 11, 2015

Ada Konsep Salah Tentang Metamorfosis

Dalam sebuah buku bilingual berjudul S**** in Science, tahun terbit 2011, untuk pelajaran IPA SD kelas 4, ada sebuah konsep yang salah tentang daur hidup hewan dan metamorfosis. Tertulis di buku tersebut seperti di bawah ini:

halaman 90
halaman 91
Di situ tertulis "animal’s metamorphosis" disamaartikan dengan "daur hidup hewan". Ini tentu saja hal yang berbeda. Tak hanya di buku tersebut, di beberapa artikel blog yang saya temukan, membuat penjelasan yang kurang tepat tentang daur hidup, berbunyi seperti ini, “Daur hidup hewan dimulai dari telur sampai menjadi dewasa”. Tentu saja ini kurang tepat, coba kita jawab, apakah semua hewan bertelur? Tentu tidak. Sedangkan penjelasan dalam artikel tersebut tertulis “...dimulai dari telur...”.

Sebagaimana yang saya kutip dari wikipedia berikut ini tentang daur hidup, “In biology, a life cycle is a series of changes in form that an organism undergoes, returning to the starting state”.

Atau kalau saya boleh permudah, kurang lebih bisa ditulis seperti ini, “Animal's life cycle is a series of deformation of animal returns to its starting state”. Atau dalam bahasa Indonesia, pengertian daur hidup adalah serangkaian perubahan bentuk yang dialami hewan sampai kembali ke keadaan awal.

Kembali membahas buku bilingual di atas. Buku tersebut menjelaskan bahwa dalam setiap daur hidup hewan terdapat metamorfosis. Ini tentu saja kurang tepat. Sebab pada kenyataannya dalam daur hidup hewan, beberapa hewan melakukan metamorfosis, dan ada hewan yang tidak bermetamorfosis. Hewan yang tidak bermetamorfosis hanyalah mengalami pertumbuhan saja, sedangkan bentuk atau struktur tubuhnya tetap, semisal kucing dan ayam. Berbeda banget khan dengan ulat yang menjadi kupu-kupu. Ulat tidak hanya sekedar mengalami pertumbuhan tetapi juga mengalami metamorfosis menjadi kupu-kupu.

Jadi sebenarnya, kalimat bahasa inggris dalam buku bilingual tersebut bisa diralat seperti ini, “In animal’s life cycle, some animals do metamorphosis, and some animals don’t”, yang berarti bahwa dalam daur hidup hewan, beberapa hewan melakukan metamorfosis, dan ada hewan yang tidak bermetamorfosis.

Lantas dalam kondisi yang bagaimanakah hewan dapat dikatakan bermetamorfosis?
Dalam bahasa Inggris, kita bisa menuliskan seperti ini, “When the adult animal’s shape or body structure is different with the young animal, it means the animal did metamorphosis”. Atau dalam bahasa Indonesianya bisa diartikan, bahwa ketika hewan dewasa memiliki